Back To Top

Naruto VS Sasuke,who is the strongest?

Monday, 30 June 2014

loop bahasa pascal

Program Output_Tengah_Tengah_Layar; 
 
Uses crt;
Var
  Xtengah, XGerak, N, I : Byte;
  Lagi : Char;
Begin
  Lagi:='Y';
  While (Upcase(Lagi)='Y') Do
     Begin
       clrscr;
       writeln('Banyak N : ');
       readln(N);
       A:=1;
       For I:=1 To N Do
          Begin
              K:=1;
             XGerak:=Xtengah;
             While (K<=A) Do
                Begin
                    Gotoxy(XGerak,I-1);
                    XGerak:=XGerak+1;
                    K:=K+1;
                End; {Akhir For J}
              XTengah:=XTengah-1;
              A:=A+2;
            End; { akhir For I}
            writeln;
            write('Anda Ingin Mencetak Lagi  : ');
            readln(Lagi);
        End; {Akhir while}
End.
 
 
layout :
                                       1
                                      111
                                     11111
                                    111111 

PROCEDURE DALAM MESIN MULTIFUNGSI

Pengkodean dengan struktur parameter (Procedure)
 
PROGRAM DATA_BARANG;
USES WINCRT;
VAR
ULANG : CHAR;
PILIH : STRING;
PROCEDURE MULAI;
BEGIN
WRITELN('KODE JENIS BARANG');
WRITELN('---------------------------------------------------');
WRITELN('* B11 [SEMBAKO] - B12 [MAKANAN] - B13 [MINUMAN] *');
WRITELN('---------------------------------------------------');
WRITELN;
WRITE('PILIH JENIS DATA BARANG : ');READLN(PILIH);
END;
PROCEDURE SEMBAKO;
VAR
KDBR : STRING;
KET1 : LONGINT;
BEGIN
CLRSCR;
WRITELN('KATEGORI SEMBAKO');
WRITELN;
WRITELN('DAFTAR KODE BARANG : ');
WRITELN('------------------------------------------');
WRITELN('BR-001 [SABUN MANDI] BR-002 [SABUN CUCI ]');
WRITELN('BR-003 [TERIGU ] BR-004 [MINYA GORENG]');
WRITELN('------------------------------------------');
WRITELN;
WRITE('KODE BARANG : ');READLN(KDBR);
IF KDBR = 'BR-001' THEN
BEGIN
WRITELN('NAMA BARANG : SABUN MANDI');
KET1 :=2500;
WRITELN('HARGA : ',KET1);
WRITELN('lOKASI : RAK 1');
WRITELN('STOK : 10 BTG');
END;
IF KDBR = 'BR-002' THEN
BEGIN
WRITELN('NAMA BARANG : SABUN CUCI');
KET1 :=3500;
WRITELN('HARGA : ',KET1);
WRITELN('lOKASI : RAK 1');
WRITELN('STOK : 5 BKS');
END;
IF KDBR = 'BR-003' THEN
BEGIN
WRITELN('NAMA BARANG : TERIGU');
KET1 :=2300;
WRITELN('HARGA : ',KET1);
WRITELN('lOKASI : RAK 2');
WRITELN('STOK : 10 KG');
END;
IF KDBR = 'BR-004' THEN
BEGIN
WRITELN('NAMA BARANG : SABUN CUCI');
KET1 :=3500;
WRITELN('HARGA : ',KET1);
WRITELN('lOKASI : RAK 2');
WRITELN('STOK : 5');
END;
END;
PROCEDURE MAKANAN;
VAR
KDBR : STRING;
KET1 : LONGINT;
BEGIN
CLRSCR;
WRITELN('KATEGORI MAKANAN');
WRITELN;
WRITELN('DAFTAR KODE BARANG : ');
WRITELN('--------------------------------------------');
WRITELN('BR-005 [WAFER NISSIN] BR-006 [KACANG GARUDA]');
WRITELN('BR-007 [SARI ROTI ] BR-008 [KHONG GUAN ]');
WRITELN('--------------------------------------------');
WRITELN;
WRITE('KODE BARANG : ');READLN(KDBR);
IF KDBR = 'BR-005' THEN
BEGIN
WRITELN('NAMA BARANG : WAFER NISSIN');
KET1 :=12500;
WRITELN('HARGA : ',KET1);
WRITELN('lOKASI : RAK 3');
WRITELN('STOK : 5 KLG');
END;
IF KDBR = 'BR-006' THEN
BEGIN
WRITELN('NAMA BARANG : KACANG GARUDA');
KET1 :=1500;
WRITELN('HARGA : ',KET1);
WRITELN('lOKASI : RAK 3');
WRITELN('STOK : 10 PAK');
END;
IF KDBR = 'BR-007' THEN
BEGIN
WRITELN('NAMA BARANG : SARI ROTI');
KET1 :=2500;
WRITELN('HARGA : ',KET1);
WRITELN('lOKASI : RAK 3');
WRITELN('STOK : 20 BKS');
END;
IF KDBR = 'BR-008' THEN
BEGIN
WRITELN('NAMA BARANG : KHONG GUAN');
KET1 :=25000;
WRITELN('HARGA : ',KET1);
WRITELN('lOKASI : RAK 2');
WRITELN('STOK : 5 KLG');
END;
END;
PROCEDURE MINUMAN;
VAR
KDBR : STRING;
KET1 : LONGINT;
BEGIN
CLRSCR;
WRITELN('KATEGORI MINUMAN');
WRITELN;
WRITELN('DAFTAR KODE BARANG : ');
WRITELN('----------------------------------------------');
WRITELN('BR-009 [COCA-COLA ] BR-010 [TEH PUCUK ]');
WRITELN('BR-011 [POCARI SWEAT] BR-012 [LARUTAN PENYEGAR]');
WRITELN('----------------------------------------------');
WRITELN;
WRITE('KODE BARANG : ');READLN(KDBR);
IF KDBR = 'BR-009' THEN
BEGIN
WRITELN('NAMA BARANG : COCA-COLA');
KET1 :=12500;
WRITELN('HARGA : ',KET1);
WRITELN('lOKASI : RAK 4');
WRITELN('STOK : 7 BTL');
END;
IF KDBR = 'BR-010' THEN
BEGIN
WRITELN('NAMA BARANG : TEH PUCUK');
KET1 :=1500;
WRITELN('HARGA : ',KET1);
WRITELN('lOKASI : RAK 4');
WRITELN('STOK : 5 BTL');
END;
IF KDBR = 'BR-011' THEN
BEGIN
WRITELN('NAMA BARANG : POCARI SWEAT');
KET1 :=2500;
WRITELN('HARGA : ',KET1);
WRITELN('lOKASI : RAK 4');
WRITELN('STOK : 8 BTL');
END;
IF KDBR = 'BR-012' THEN
BEGIN
WRITELN('NAMA BARANG : LARUTAN PENYEGAR');
KET1 :=25000;
WRITELN('HARGA : ',KET1);
WRITELN('lOKASI : RAK 4');
WRITELN('STOK : 5 KLG');
END;
END;
BEGIN
ULANG := 'Y';
WHILE ULANG = 'Y' DO
BEGIN
CLRSCR;
WRITELN(' PROGRAM DATA BARANG');
WRITELN(' TOKO BERKAH MAKMUR GROSIR DAN ECERAN');
WRITELN('ALAMAT : JL. KHZ. MUSTHAFA NO. 22 SUKAHIDENG-SUKARAPIH-TASIKMALAYA 43364');
WRITELN('=======================================================================');
WRITELN('Struktur Procedure Kelompok 2 © 2013');
WRITELN('=======================================================================');
WRITELN;
MULAI;
IF PILIH ='B11' THEN
BEGIN
SEMBAKO
END;
IF PILIH ='B12' THEN
BEGIN
MAKANAN
END;
IF PILIH ='B13' THEN
BEGIN
MINUMAN
END;
WRITELN;
WRITE('APAKAH AKAN MENGULANG PENCARIAN DATA Y/T ? ');READLN(ULANG);
IF ULANG = 'T' THEN
DONEWINCRT;
END;
END.
 
layout 
 

Saturday, 26 April 2014

Flowchart Kasus Elektro untuk Perhitungan Tegangan Lebih Induksi akibat Sambaran Petir tidak langsung di Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi

Saluran distribusi 20 kV merupakan salah satu bagian penting dalam sistem tenaga listrik. Tegangan lebih induksi akibat sambaran kilat tidak langsung pada saluran distribusi 20 kV menyebabkan gangguan baik temporer maupun permanent. Gangguan ini menyebabkan turunnya kontinyuitas pelayanan energi listrik ke konsumen atau dengan kata lain mengurangi tingkat kehandalan. Dalam perhitungan tegangan induksi dilakukan menggunakan teori yang dikemukakan Rusck. Perhitungan angka keluaran (outage rate) didasarkan pada asumsi bahwa bila ada tegangan induksi yang melebihi batas ketahanan impuls isolator (V50%) maka penghantar akan terganggu. Dimana semakin kecil angka keluaran menunjukkan bahwa tingkat kehandalan energi listrik semakin baik. 
Pengaruh Petir pada Jaringan Listrik 
Dari segi listrik petir sangat membahayakan kelangsungan pelayanan listrik. Kilat terjadi pada sembarang waktu dan sembarang tempat yang tidak dapat dipastikan. Gangguan kilat pada kawat penghantar listrik adalah gangguan karena kilat yang menyambar atau mempengaruhi kawat fasa/penghantar, sehingga hal tersebut dapat mengakibatkan timbulnya surja tegangan dan surja arus pada pada kawat penghantar yang sama atau melebihi ketahanan impuls isolasi dari isolator ataupun instalasi. Pada keadaan surja tegangan yang timbul menyamai atau melebihi ketahanan impuls isolator maka isolator akan flash over, yang akan menyebabkan isolator terbakar dan membahayakan pengguna listrik dari saluran distribusi tersebut. Bila hal ini terjadi maka dapat menimbulkan loncatan bunga api maupun busur api. Maka dari itu penghitungan tegangan tembus dari saluran udara tegangan ekstra tinggi saat terkena sambaran petir diperlukan untuk menjamin lancarnya distribusi ke pengguna listrik.

Friday, 14 March 2014

flowchat

Pengertian dan Definisi Flowchart

Flowchart atau Bagan alir adalah bagan  (chart) yang menunjukkan alir  (flow) di dalam program atau prosedur sistem secara logika. Bagan alir (flowchart) digunakan terutama untuk alat bantu komunikasi dan untuk dokumentasi.

Proses penjualan :

Input = Coin + Pilih Item -> Proses(Mesin) -> Output = Minuman

Langkah – langkah Penggunaan Mesin Minuman



1. Mulai


2. Tukarkan uang kertas dengan uang koin dengan nilai nominal Rp. 2500 .


3. Setelah itu masukan ke lima koin tersebut ke dalam mesin minuman ke tempat masukan yang sudah disediakan


4. Di dalam tempat mesin minuman terdapat kode di setiap minuman seperti pada baris pertama “A1‐A8”, pada baris ke‐2 “B1‐B8”,dan pada baris ke‐3 “C1‐C8”


5. Lalu masuk keSymbol Decision pertama (pilih minuman) dengan proses "Y" dan "T".
saat kondisi "Y" terpenuhi dengan syarat telah terpenuhi memasukan 5 koin Rp.500 lalu akan di lanjutkan ke proses Symbol Decision kedua yaitu masukan kode minuman.

saat kondisi "T" terpenuhi dengan syarat > memasukan 5 koin Rp.500 lalu akan di proses lagi masuk ke menu "masukan koin".

6. setelah memasukan 5 koin Rp.5.00 terpenuhi lalu masuk ke Symbol Decision kedua yaitu masukan kode minuman, misalkan kita memilih dengan kode A1 maka yang akan terjadi mesin akan menuju kekode minuman A1 setelah menekan "Y" pada mesin maka akan di proses ke menu selanjutnya yaitu minuman keluar.

saat kondisi "T" terpenuhi akan ada pembatalan maka akan di ulang untuk memasukan kode minuman yang di inginkan kembali,

7. Symbol Manual Input adalah minuman keluar dengan otomatis minuman yang di inginkan akan keluar di tempat yang telah disediakan mesian minuman.

8. selesai


NOTE :"Y" di artikan Yes berfungsi memproses ke proses selanjutnya
           "T" di artikan  Tidak berfungsi tidak memenuhi kondisi yang diinginkan maka akan terjadi LOOPING

Thursday, 26 December 2013

DEPRESIASI dan DEPLESI

DEPRESIASI dan DEPLESI

DEPRESIASI
Metode yang paling mudah dan paling sering digunakan untuk menghitung penyusutan adalah metode penyusutan garis lurus (straight-line depreciation). Tapi selain itu, ada pula metode penghitungan lain yang bisa juga digunakan, seperti metode penyusutan dipercepat, penyusutan jumlah angka tahun, dan saldo menurun ganda.
Depresiasi adalah penurunan dalam nilai fisik properti seiring dengan waktu dan penggunaannya. Dalam konsep akuntansi, depresiasi adalah pemotongan tahunan terhadap pendapatan sebelum pajak sehingga pengaruh waktu dan penggunaan atas nilai aset dapat terwakili dalam laporan keuangan suatu perusahaan. Depresiasi adalah biaya non-kas yang berpengaruh terhadap pajak pendapatan. Properti yang dapat didepresiasi harus memenuhi ketentuan berikut:
1. Harus digunakan dalam usaha atau dipertahankan untuk menghasilkan pendapatan.
2. Harus mempunyai umur manfaat tertentu, dan umurnya harus lebih lama dari setahun.
3. Merupakan sesuatu yang digunakan sampai habis, mengalami peluruhan/ kehancuran, usang, atau mengalami pengurangan nilai dari nilai asalnya.
4. Bukan inventaris, persediaan atau stok penjualan, atau properti investasi.
Properti yang dapat didepresiasi dikelompokkan menjadi:
- nyata (tangible): dapat dilihat atau dipegang. Terdiri dari properti personal (personal property) seperti mesin-mesin, kendaraan, peralatan, furnitur dan item-item yang sejenis; dan properti riil (real property) seperti tanah dan segala sesuatu yang dikeluarkan dari atau tumbuh atau berdiri di atas tanah tersebut.
- tidak nyata (intangible). Properti personal seperti hak cipta, paten atau franchise.
Depresiasi merupakan komponen penting dalam analisis ekonomi teknik, karena:
1. Dapat dipergunakan untuk mengetahui nilai suatu asset sesuai dengan waktu.
2. Dapat dipergunakan untuk mengalokasikan depresiasi (accounting depreciation) nilai asset tersebut. Pengalokasian tersebut dipergunakan untuk menjamin bahwa asset yang telah diinvestasikan dapat diperoleh kembali setelah masa layannya selesai.
3. Dengan depresiasi dapat dipergunakan untuk pengurangan pengenaan pajak dengan jalan bahwa asset yang diinvestasikan diperhitungkan sebagai biaya produksi, sehingga hal ini berkaitan dengan pajak.
ISTILAH DALAM DEPRESIASI
Beberapa istilah yang sering dipergunakan didalam depresiasi, adalah:
1. Depresiasi adalah penurunan nilai dari suatu asset. Jumlah depresiasiDt selalu dihitung tahunan.
2. Biaya Awal(First Cost atau Unadjusted Basis) adalah biaya pemasangan dari asset termasuk biaya pembelian, pengiriman dan fee pemasangan, dan biaya langsung lainnya yang dapat dideprisiasikan termasuk persiapan asset untuk digunakan. Istilah unadjusted basis atau simple basis, serta simbul B dipergunakan ketika asset masih dalam keadaan baru.
3. Nilai Buku(Book Value) menggambarkan sisa, investasi yang belum terdepresiasi pada buku setelah dikurangi jumlah total biaya depresiasi pada waktu itu. Nilai buku BVt selalu ditentukan pada akhir tahun.
4. Periode Pengembalian(Recovery Period) umur depresiasi, n, dari asset dalam tahun untuk tujuan depresiasi.
5. Nilai Pasar(Market Value) Perkiraan nilai asset yang realistis jika asset tersebut dijual pada pasar bebas.
6. Tingkat Depresiasi (Depreciation Rate atau Recovery Rate) adalah fraksi dari biaya awal yang diambil dengan depresiasi setiap tahun. Tingkat ini adalah dt, mungkin sama setiap tahun yang sering disebut dengan straight-line rate atau berbeda setiap tahun pada periode pengembaliannya.
7. Nilai Sisa (Salvage Value) Perkiraan nilai jual atau nilai pasar pada akhir masa pakai dari asset tersebut. Nilai sisa SV.
METODE PERHITUNGAN DEPRESIASI
Metode penghitungan depresiasi ada 4 :
1.Metode Garis Lurus
2.Metode Unit Produksi
3.Metode Saldo Menurun Ganda
4.Metode Jumlah Angka Tahun
METODE GARIS LURUS
Dalam metode garis lurus maka nilai terdepresi / nilai yang didepresiasikan dari sebuah aktiva dibagi rata sepanjang taksiran umur manfaat aktiva tersebut.
Depresiasi=( Nilai Aktiva – Residu ) / Taksiran Umur Manfaat
Contoh :
Namun bagi anda yang ingin menghitung penyusutan harta yang telah berjalan (pembelian terdahulu), caranya adalah sbb :
1. Hitung terlebih dahulu besarnya penyusutan per bulan
2. Kalikan nilai penyusutan per bulan dg banyaknya bulan yg sudah berjalan, sehingga didapat akumulasi penyusutannya
Contoh kasus :
Pd tanggal 1 Januari 2012 telah dibeli kendaraan senilai 100jt, perusahaan telah menentukan umur ekonomis adalah 5 tahun dengan nilai residu 1jt, hitunglah akumulasi penyusutan kendaraan sampai dengan bulan April 2012.
Jawabannya adalah sebagai berikut :
1. Hitung penyusutan per bulan terlebih dahulu
= 100jt – 1jt : (5×12)
= 99jt : 60 bulan
= 1.650.000
2. Hitung akumulasi penyusutan dari bulan Januari – April 2012 (4 bulan)
= 1.650.000 x 4
= 6.600.000
METODE UNIT PRODUKSI
Dalam metode ini nilai depresiasi tergantung kepada banyaknya produksi yang sudah dihasilkan oleh aktiva tersebut ( biasanya berupa mesin produksi ). Semakin banyak produksi yang dihasilkan oleh mesin tersebut maka akan semakin banyak pula depresiasinya.
Depresiasi =( Produksi yang dihasilkan / Taksiran Kemampuan Berproduksi ) x Nilai Terdepresi
Contoh :
Contoh :
Sebuah mesin pabrik mempunyai harga perolehan sebesar Rp 55.000.000,00 diperkirakan mempunyai umur ekonomis selama 5 tahun dengan nilai sisa sebesar Rp 5.000.000,00 serta diperkirakan dapat menghasilkan unit produksi selama 5 tahun sebagai berikut :
Tahun Ke-1 = 15.000 unit
Tahun Ke-2 = 12.500 unit
Tahun Ke-3 = 10.000 unit
Tahun Ke-4 = 7.500 unit
Tahun Ke-5 = 5.000 unit
Maka besarnya penyusutan adalah :
Penyusutan per unit = (Rp.55.000.000,00 – Rp. 5.000.000,00)/50.000
= Rp. 1.000
Penyusutan per tahun :
Tahun Unit Produksi Tarif Penyusutan
1 15.000 Rp 1.000,00 Rp 15.000.000,00
2 12.500 Rp 1.000,00 Rp 12.500.000,00
3 10.000 Rp 1.000,00 Rp 10.000.000,00
4 7.500 Rp 1.000,00 Rp 7.500.000,00
5 5.000 Rp 1.000,00 Rp 5.000.000,00
METODE SALDO MENURUN GANDA
Metode ini tidak memperhitungkan adanya nilai sisa / residu. Depresiasi tiap periode menggunakan prosentasi yang sama akan tetapi menghasilkan nilai yang berbeda karena nilai depresiasi pertama mengurangi nilai aktiva pada periode kedua dan seterusnya. Artinya nilai aktiva setiap periode selalu berbeda karena nilai aktiva menurun.
Prosentasi Depresiasi =( 100% / taksiran umur manfaat )x2
Depresiasi Periode 1= Prosentase Depresiasi xNilai Aktiva Periode 1
DEpresiasi Periode 2 =Prosentase Depresiasi x Nilai Aktiva Periode2. Dimana nilai aktiva periode 2 adalah nilai aktiva awal dikurangi nilai depresiasi periode 1.
Contoh :
Tingkat penyusutan per tahun :
Tingkat penyusutan metode saldo menurun ganda
= tingkat penyusutan metode garis lurus X 2
= (1/4) X 2
= 25% X 2
= 50%
Untuk tahun pertama, biaya penyusutan diperoleh dengan menghitung biaya perolehan aset tetap dikalikan dengan tingkat penyusutan saldo menurun ganda. Contoh biaya penyusutan tahun pertama adalah sebesar Rp 10 juta dikalikan 50%, atau sebesar Rp 5 juta.
Setelah tahun pertama, biaya penyusutan per tahun diperoleh dengan menghitung nilai buku aset tetap, yaitu biaya perolehan aset tetap dikurangi akumulasi penyusutan tahun bersangkutan, untuk kemudian dikalikan dengan tingkat penyusutan saldo menurun ganda. Contoh biaya penyusutan tahun kedua adalah sebesar (Rp 10 juta – Rp 5 juta) dikalikan 50%, atau sebesar Rp 5 juta dikalikan 50% atau sama dengan Rp 2,5 juta.
Thn Biaya Perolehan Akumulasi Penyusutan pada Awal Tahun Nilai Buku pada Awal Tahun Tingkat Saldo Menurun Ganda Penyusutan Nilai Buku pada Akhir Tahun
1 10.000.000 0 10.000.000 50% 5.000.000 5.000.000
2 10.000.000 5.000.000 5.000.000 50% 2.500.000 2.500.000
3 10.000.000 7.500.000 2.500.000 50% 1.250.000 1.250.000
4 10.000.000 8.750.000 1.250.000 - 250.000 1.000.000
METODE JUMLAH ANGKA TAHUN
Dalam metode ini depresiasi pada periode pertama jumlahnya paling besar dan dan pada periode terakhir depresiasinya paling kecil. Jadi depresiasi setiap periode berkurang sesuai dengan jumlah angka tahun taksiran umur manfaatnya. Jika taksiran umur manfaat n tahun maka cara menghitungnya adalah
S = n(n+1)/2
Depresiasi tahun 1 =( n / S ) x Nilai Terdepresi
Depresiasi tahun 2=( ( n-1 )/ S ) x Nilai Terdepresi
Depresiasi tahun 3=( ( n-2 ) / S ) x Nilai Terdepresi
Seterusnya sampai habis taksiran umur manfaatnya.
Contoh :
Sebuah kendaraan dengan harga perolehan Rp 3.200.000,00. Umur ekonomis 5 tahun dan nilai residu ditaksir Rp 8.000.000,00. Berapakan penyusutan periodik dengan menggunakan metode jumlah angja tahun.
Angka Tahunan Tarif Penyusutan Harga Perolehan Beban Peny.Periodik Akumulsi Penyusutan Nilai Buku
1 5
15 Rp 32.000.000 Rp 8.000.000 Rp 8.000.000 Rp 24.000.000
2 4
15 Rp 32.000.000 Rp 6.400.000 Rp 14.400.000 Rp 17.600.000
3 3
15 Rp 32.000.000 Rp 4.800.000 Rp 19.000.000 Rp 12.800.000
4 2
15 Rp 32.000.000 Rp 3.200.000 Rp 22.400.000 Rp 9.600.000
5 1
15 Rp 32.000.000 Rp 1.600.000 Rp 24.000.000 Rp 8.000.000
Penjelasan:
a. Tarif penyusutan :
- Pembilang menggunakan angka tahun dimulai tahun yang terakhir/ terbesar, ke tahun terkecil
- Penyebut adalah jumlah angka-angka tahun (1+2+3+4+5) = 15
b.Beban penyusutan = Tarif penyusutan x (Harga Perolehan – Nilai Sisa)
c. Nilai Buku = Harga Perolehan – Nilai Sisa
= Rp 32.000.000 – Rp 8.000.000
= Rp 24.000.000
d.Beban penyusutan
Tahun I = 5 x Rp 24.000.000 = Rp 8.000.000
15
Tahun II = 4 x Rp 24.000.000 = Rp 6.400.000
15
DEPLESI
Deplesi merupakan istilah lain dari penyusutan atau amortisasi. Deplesi digunakan khusus untuk sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, misalnya bijih besi, hasil tambang, kayu hutan dsbnya.
Deplesi dihitung dengan tarif deplesi yang diperoleh dari Beban yang dikeluarkan untuk mendapatkan hak penambangan dibagi estimasi hasil yang akan diperoleh.
Ilustrasi 1 :
PT Andalan Tambang memperoleh hak penambangan sebesar Rp. 500.000.000.000,- Estimasi hasil yang terkandung didalamnya sebesar 1.000.000 ton bahan tambang. Tahun pertama berhasil ditambang sebesar 26.500 ton, maka Jurnal Deplesi yang dilakukan akhir tahun pertama adalah :
D : Beban Deplesi=== Rp. 13.250.000.000,-
K : Akumulasi Deplesi====== Rp. 13.250.000.000,-
Keterangan:
Besarnya deplesi tergantung pada jumlah ton yang berhasil ditambang.
Ilustrasi 2 :
Pada tanggal 5 Januari 20 A PT Perkasa membeli tanah yang mengandung bijih besi seharga Rp. 100 milyar. Estimasi nilai sisa tanah seharga Rp. 20 milyar. Hasil survey geologi pada saat pembelian terdapat 2 juta bijih besi yang dapat diambil. Pada tahun 20A dikeluarkan biaya untuk pembuatan jalan dan proses pengeluaran bijih besi sejumlah Rp. 750 juta. Pada tahun 20A, 50.000 ton telah ditambang. Survey baru dilakukan pada akhir tahun 20B dan diperkirakan ada 3 juta ton bijih besi yang terkandung didalam tambang. Pada tahun 20B, 125.000 ton bijih besi berhasil ditambang.
Instruksi:
Hitunglah beban deplesi tahun 20A dan 20B
Solusi :
Beban Deplesi tahun 20A :
Harga sumber daya -nilai sisa Rp. 80.000.000.000,-
Perbaikan lahan jalan…………Rp 750.000.000,-
Jumlah…………………………….Rp.80.750.000.000,-
Estimasi bijih besi dalam ton = 2.000.000 ton
Biaya deplesi per ton Rp. 40.375,-
Beban Deplesi Tahun 20A =
* 50.000 ton x Rp. 40.375 = Rp. 2.018.750.000,-
Beban Deplesi tahun 20B :
Harga sumber daya (neto) Rp. 80.750.000.000,-
Beban Deplesi tahun 20A… Rp. 2.018.750.000,-
Sisa pada awal tahun 20A…Rp. 78.731.250.000,-
Sisa bijih besi setelah survey ( ton) = 3.125.000 ton
( 3.000.000 + 125.000)
Biaya Deplesi per ton Rp. 25.194,-
Biaya deplesi tahun 20B =
* 125.000 ton x Rp. 25.194,- = Rp. 3.149.250.000,-
Sumber :
http://blogtiara.wordpress.com/2011/03/28/depresiasi/
http://dendyfreddy.wordpress.com/2011/02/01/perhitungan-penyusutan-metode-garis-lurus/
http://anugrahmarina.blogspot.com/2012/10/metode-satuan-hasil-produksi.html
http://anugrahmarina.blogspot.com/2012/10/menghitung-penyusutan-metode-jumlah.html
http://solusiakun.blogspot.com/2009/11/d-e-p-l-e-s-i-deplesi-merupakan-istilah_10.html

Thursday, 21 November 2013

Internal Rate of Return

Definisi
 
IRR berasal dari bahasa Inggris Internal Rate of Return disingkat IRR yang merupakan indikator tingkat efisiensi dari suatu investasi. Suatu proyek/investasi dapat dilakukan apabila laju pengembaliannya (rate of return) lebih besar dari pada laju pengembalian apabila melakukan investasi di tempat lain (bunga deposito bank, reksadana dan lain-lain).


Penggunaan

 IRR digunakan dalam menentukan apakah investasi dilaksanakan atau tidak, untuk itu biasanya digunakan acuan bahwa investasi yang dilakukan harus lebih tinggi dari Minimum acceptable rate of return atau Minimum atractive rate of return. Minimum acceptable rate of return adalah laju pengembalian minimum dari suatu investasi yang berani dilakukan oleh seorang investor.

Cara perhitungan IRR

IRR [1]merupakan suku bunga yang akan menyamakan jumlah nilai sekarang dari penerimaan yang diharapkan diterima (present value of future proceed) dengan jumlah nilai sekarang dari pengeluaran untuk investasi.
Besarnya nilai sekarang dihitung dengan menggunakan pendekatan sebagai berikut:
\mbox{NPV} = \sum_{n=0}^{N} \frac{C_n}{(1+r)^{n}} = 0

Contoh

Bila suatu investasi mempunyai arus kas sebagaimana ditunjukkan dalam tabel berikut
Tahun (n) Arus kas (C_n)
0 -4000
1 1200
2 1410
3 1875
4 1050

Kemudian IRR r dihitung dari
NPV=-4000+\frac{1200}{(1+r)^1} + \frac{1410}{(1+r)^2} + \frac{1875}{(1+r)^3} + \frac{1050}{(1+r)^4} = 0.
Dalam kasus ini hasilnya adalah 14.3%.

Perhitungan IRR praktis

Untuk mempermudah perhitungan IRR, yaitu dengan mencoba suku bunga yang diperkirakan akan memberikan nilai NPV positif misalnya 10 % yang akan memberikan NPV sebesar 382 dan dilanjutkan dengan perhitungan NPV yang negatif, Misalnya pada 20 % akan memberikan NPV sebesar -429. Dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

IRR ={Bunga\ rendah\ +\ } \frac{NPV\ pada\ bunga\ rendah} {NPV\ pada\ bunga\ rendah\ -\ NPV\ pada\ bunga\ tinggi} * \left(bunga\ tinggi\ - \ bunga\ rendah\right)\,

atau disederhanakan

IRR ={Ir\ +\ } \frac{NPV\ Ir } {NPV\  Ir \ -\ NPV\  It } * \left(It\ - \ Ir\right)\,

dari data di atas akan diperoleh IRR Sebesar 14,71 %, angka ini sedikit berbeda dari hasil hitungan di atas karena merupakan perhitungan empiris, angka ini bisa diperbaiki kalau rentang bunga tinggi dengan bunga rendah lebih kecil.

future worth analysis

Future Value (FV) digunakan untuk menghitung nilai investasi yang akan datang berdasarkan tingkat suku bunga dan angsuran yang tetap selama periode tertentu. Untuk menghitung FV bisa menggunakan fungsi fv() yang ada dimicrosoft excel. Ada lima parameter yang ada dalam fungsi fv(), yaitu :

  • Rate, tingkat suku bunga pada periode tertentu bisa per bulan ataupun per tahun.
  • Nper, jumlah angsuran yang dilakukan
  • Pmt, besar angsuran yang dibayarkan.
  • Pv, nilai saat ini yang akan dihitung nilai akan datangnya.
  • Type, jika bernilai 1 pembayaran dilakukan diawal periode, jika bernilai 0 pembayaran dilakukan diakhir periode.
Contoh 1:
Biaya masuk perguruan tinggi saat ini adalah Rp50.000.000, berapa biaya masuk perguruan tinggi 20 tahun yang akan datang, dengan asumsi pemerintah mampu mempertahankan inflasi satu digit, misal 8% per tahun, dengan menggunakan fungsi fv(), masukkan nilai untuk parameter-parameter yang ada sebagai berikut :
  • Rate = 8%
  • Nper = 20
  • Pmt = 0, tidak ada angsuran yang dikeluarkan tiap tahunnya
  • Pv = -50000000, minus sebagai tanda cashflow bahwa kita mengeluarkan uang
  • Type = 0
Dari masukan diatas maka akan didapat nilai 233,047,857.19
Contoh 2:
Setiap bulan kita menabung dibank sebesar 250.000, saldo awal tabungan kita adalah 10.000.000, bunga bank pertahun 6%, dengan asumsi tidak ada potongan bunga dan biaya administrasi, berapa uang yang akan kita dapat 20 tahun yang akan datang?, dengan menggunakan fungsi fv(), masukkan nilai untuk parameter-parameter yang ada sebagai berikut :
  • Rate = 6%/12, dibagi 12 karena angsuran 250.000 dilakukan perbulan
  • Nper = 20×12 = 240, dikali 12 karena angsuran dilakukan per bulan
  • Pmt = -250000, nilai yang ditabungkan setiap bulan, minus sebagai tanda cashflow kita mengeluarkan uang
  • Pv = -50000000, minus sebagai tanda cashflow bahwa kita mengeluarkan uang
  • Type = 0
Dari masukan diatas maka akan didapat nilai 148,612,268.55
Yang perlu diperhatikan dalam penggunakan fungsi fv() adalah satuan untuk parameter rate, nper dan pmt haruslah sama, jika satuannya bulan maka harus bulan semua, jika ada yang bersatuan tahun maka harus dikonversi ke satuan bulan.
Present Value digunakan untuk untuk mengetahui nilai investasi sekarang dari suatu nilai dimasa datang. Untuk menghitung PV bisa menggunakan fungsi pv() yang ada dimicrosoft excel. Ada lima parameter yang ada dalam fungsi pv(), yaitu :
  • Rate, tingkat suku bunga pada periode tertentu bisa per bulan ataupun per tahun.
  • Nper, jumlah angsuran yang dilakukan.
  • Pmt, besar angsuran yang dibayarkan.
  • Fv, nilai akan datang yang akan dihitung nilai sekarangnya.
  • Type, jika bernilai 1 pembayaran dilakukan diawal periode, jika bernilai 0 pembayaran dilakukan diakhir periode.
Contoh :
Saat pensiun 25 tahun lagi saya ingin punya uang 1.000.000.000, berapakah nilai uang 1.000.000.000 saat ini, dengan asumsi pemerintah mampu mempertahankan inflasi satu digit, misal 8% per tahun, dengan menggunakan fungsi pv() masukkan nilai untuk parameter-parameter yang ada sebagai berikut :
  • Rate = 8%
  • Nper = 25
  • Pmt = 0, tidak ada angsuran yang dikeluarkan tiap tahunnya
  • Fv = 1000000000
  • Type = 0
Dari masukan diatas maka akan didapat nilai -146,017,904.91
Kenapa minus, sekali lagi itu sebagai tanda cash flow, untuk mendapatkan uang 1.000.000.000 25 tahun lagi maka saya harus mengeluarkan uang sebesar 146,017,904.91 saat ini atau dengan kata lain uang 1.000.000.000 25 tahun lagi sama nilainya dengan uang 146,017,904.91 saat ini, dengan asumsi inflasi konsisten sebesar 8% setiap tahun selama 25 tahun.
Sama halnya dengan fungsi fv(), fungsi pv() harus menggunakan satuan yang sama untuk parameter rate, nper dan pmt, jika bersatuan tahun maka harus tahun semua, jika ada yang bersatuan bulan maka harus dikonversi ke satuan tahun.

Visitor

Powered by Blogger.

Labels

Copyright © 2012 Bebin Cahyadi | Naruto Vs Sasuke V2 Theme | Designed by Johanes DJ